R

Widget Animasi

R

Widget Animasi

Minggu, 06 Mei 2012

Teknik Las Pemula


LAS GAS OKSI – ASETELIN
1.    Pengertian Las  Oksi – Asetelin
Las oksi asetelin adalah pngelasan yang dilaksanakan dengan pencampuran 2 jenis gas sebagai pembentuk nyala api dan sebagai sumber panas. Dalam proses las gas ini, gas yang digunakan adalah campuran dari gas oksigen (O2) dan gas lain sebagai gas bahan bakar (fuel gas). Gas bahan bakar yang paling popular dan paling banyak digukan dibengkel-bengkel adalah gas asetelin. Gas ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan gas bahan bakar lain. Kelebihan yang dimiliki gas asetelin antara lain, menghasikan temperature nyala api lebih tinggi dari gas bahan bakar lainnya, baik bila dicampur dengan udara ataupun oksigen.
2.    Bahan bakar gas.
Ø  Asetelin (C2H2).
Asetelin (nama sistematis : etuna) adalah suatu hidrokarbon yang tergolong kepada alkuna, dengan rumus C2H2. Asetelin merupakan alkuna yang paling sederhana, kerena hanya terdiri dari dua atom karbon dan dua atom karbon. Pada asetelin , kedua karbon terikat melalui ikatan rangkap tiga, dan masing-masing atom karbon memiliki hibridisasi orbital sp untuk ikatan sigma.
Ø  Propana
Propana adalah senyawa alkana tiga karbon (C2H8) yang berwujud gas dalam keadaan normal, tapi dapat dikompresi menjadi cairan yang mudah dipindahkan dalam container yang tidak mahal. Senyawa ini diturunkan dari produk petroleum lain pada pemprosesan minyak bumi atau gas alam. Propane umumnya digunakan lain pada bahan bakar  untuk mesin, barbeque ( pemagang ). Dan rumah-rumah.
3.    Peralatan las oksi – asetelin
a.    Tabung Gas
Tabung gas  berfungsi untuk menampung gas atau gas cair dalam kondisi bertekanan. Umumnya tabung –tabung gas dibuat dari baja, tetapi sekarang ini sudah banyak tabung- tabung gas yang terbuat dri panduan aluminium.
b.    Katup tabung
Sedang mengatur keluarnya gas dari dalam tabung maka digunakan katup. Katup ini ditempatkan tempat di bagian atas dari tabung. Pada tabung gas oksigen, katup biasanya dibuat dari material bangunan, sedangkan untuk tabung gas asetelin, katup ini terbuat dari material baja.
c.    Regulator
Regulator atau lebih tepat dikatakan katup penutup tekan, dipasang pada katup tabung dengan tujuan untuk mengurangi atau menurunkan tekan hingga mencapai tekanan kerja torch. Regulator ini juga berperan untuk mempertahankan besarnya tekanan kerja sekama proses pengelasan atau pemotongan.
d.    Selang Las
Untuk  mengalirkan gas yang keluar dari tabung menuju torch digunakan selang gas. Untuk memenuhi persyaratan keamanan, selang harus mampu menahan tekan kerja dan tidak mudah bocor. Dalam pemakaiannya , selang dibedakan berdaarkan jenis gas yang dialirkan. Untuk memudahkan bagaimana membedahakan selang oksigen dan selang asetelin maka cukup memperhatikan kode warna pada selang.
e.    Torch (pembakar)
Gas yang dialirkan melalui selang selanjutnya diterukan oleh torch, tercampur di dalamnya dan akhirnya pada ujung nosel terbentuk nyala api. Dari keterangan diatas, torch memiliki dua fungsi yaitu:
Ø  Sebagai pencampur gas oksigen dan gas bahan bakar.
Ø  Sebagai pembentuk nyala api di ujung nosel.
f.     Pematik Api Las
Alat yang berfungsi untuk menyalakan api las.
g.    Tip Cleaner
Alat ini berfungsi untuk membersihkan lubang mulut pembakar.
4.    Proses Pengelasan Oksi Asetelin
Ø  Membuat Nyala Api
·         Nyala Api karburasi
Bila terlalu banyak perbandingan gas yang digukan maka diantara kerucut dan luas akan timbul kerucut nyala baru berwarna biru. Diantara kerucut yang menyala dan selubung luar akan terdapat kerucut antara yang berwarna keputih-putihan ,yang panjangnya ditentukan oleh kelebihan asetelin. Hal ini menyebabkan terjadinya karburasi pada logam cair.
·         Nyala Api Netral
Nyala ini terjadi bila perbandingan antara oksigen dan asetelin sekitar satu. Nyala terdiri atas kerucut dalam yang berwarna putih bersinar dan kerucut luar berwarna biru bening. Oksigen yang diperlukan nyala ini berasal dari udara . suhu maksimal sehingga 3300 sampai 3500°C tercapai pada ujung nyala kerucut.
·         Nyala Api Oksidasi
Bila gas oksigen lebih dari pada yang dibutuhkan untuk menghasilkan nyala netral maka nyala api menjadi pendek dan warna kerucut dalam berubah menjadi ungu. Nyala ini akan menyebabkan terjadinya proses oksidasi atau dekarburisasi pada logam cair.



TEORI TEKNIK PENGELASAN
Ø  Posisi pengelasan di bawah tangan
Ø  Posisisi pengelasan (horizontal)
Ø  Posisi pengelasan  (vertical)
Ø  Posisisi pengelasan di atas kepala (overhead)
Ø  Pengelasan arah ke kiri ( maju)
Ø  Pengelasan arah ke kanan (mundur)
Ø  Operasi Branzing (Flame Brazing)
Ø  Operasi Pemotong Logam (Flame Cut)
Ø   Operasi perluasan (Flame Gauging)
Ø  Operasi pelurusan (Flame Straightening)
v  Posisi pengelasan di bawah tangan
Pengelasan di bawah tangan adalah proses pengelasan yang dilakukan dibawah tangan dan benda kerja terletak diatas bidang datar. Sudut ujung pembakar (brander) terletak diantara 60°C dan kawat posisi (filler rod) dimiringkan dengan sudut antara 30-40°C dengan benda kerja. Kedududkan ujung pembakar kesudut sambungan dengan jarak 2 – 3 mm agar terjadi panas maksimal pada sambungan.
v  Posisi pengelasan (horizontal)
Pada posisi ini benda kerja bendiri tegak , sedangkan pengelasan dilakukan dengan arah mendatar sehingga cairan las cenderung mengalir ke bawah, untuk itu ayunan brander sebaiknya sekecil mungkin. Kedudukan brander terhadap benda kerja menyudut 70° dan miring kira-kira 10° ke bawah garis mendatar, sedangkan kawat pengisi di miringkan pada sudut 10° di atas garis mendatar.
v  Posisi pengelasan (Vertical)
Pada pengelasan dengan posisi vertical , arah pengelasan berlangsung ke atas atau ke bawah. Kawat pengisi di tempatkan antara nyala api dan tempat sambungan yang bersudut 45° - 60° dan suhu brander sebesar 80°.
v  Posisi pengelasan di atas kepala (Overhead)
Pengelasan dengan posisi ini adalah yanga paling sulit di bandingkan dengan posisi lainnya dimana benda kerja berada di atas kepala dan pengelasan dilakukan dari bawahnya. Pada pengelasan posisi ini sudut brander dimiringkan 10° dari garis vertical sedangkan kawat pengisi berada dibelakangnya bersudut 45° - 60°.
v  Pengelasan arah ke kiri (maju)
Cara pengelasan ini paling banyak digunakan dimana nyala api diarahkan kekiri dengan membentuk sudut 60° dan kawat las 30° terhadap benda kerja sedangkan sudut melintangnya tegak lurus terhadap arah pengelasan. Cara ini banyak digunakan karena cara pengelasannya mudah dan tidak membutuhkan posisi yang sulit saat mengelas.
v  Pengelasan arah ke kanan (mundur)
Cara pengelasan ini adalah arahnya kebalikan dari pada pengelasan ke kiri. Pengelasan dengan cara ini di perlukan untuk pengelasan baja yang tebalnya 4,5 mm ke atas.
v  Operasi Branzing (flame branzing)
Yang dimaksud dengan branzing disini adalah proses penyambungan tanpa mencairkan logam induk yang di sambung.
v  Operasi pemotong logam (flame cut)
Kasus pemotongan logam sebenarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Proses penggergajian (sewing) dan menggunting (shearing) merupakan contoh dari proses pemotongan logam dan lembaran logam. Proses menggunting hanya cocok diterapkan pada lembaran  logam yang ketebalannya tipis. Proses penggergajian dapat diterapkan pada pelat yang lebih tebal tetapi memerlukan waktu pemotongan yang lebih lama. Untuk dapat memotong pelat tebal dengan peralatan khusus misalnya mengganti torchnya (di bengkel-bengkel menyebutnya brander)
v  Operasi perluasan (Flame Gauging)
Operasi perluasan dan pencukilan ini biasanya diterapkan pada produk/komponen logam yang terdapat cacat/retak permukaannya. Retak/cacat tadi sebelum ditambal kembali dengan pengelasan, terlebih dahulu dicukil atau diperluas untuk tujuan menghilangkan retak itu. Setelah retak dihingkan barulah kemudian alur hasil pencukilan tadi diisi kembali dengan logam las.
v  Operasi pelurusan (flame straightening)
Operasi pelurusan dilaksanakan dengan memberikan panas pada komponen dengan bentuk pola pemanasan tertentu. Ilustrasi di bawah ini menunjukan prinsip dasar pemuaian dan pengkerutan pada suatu logam batang. Batang lurus dipanaskan dengan pola pemanasan segitiga. Logam cenderung memuai pada saat dipanaskan. Daerah pemanasan tersebut menghasilkan pemuaian yang besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar